MENGKAJI AL QURAN MENGHASILKAN SHALAT KHUSYU DAN MENGHINDARKAN PERBUATAN BURUK

Posted: Februari 12, 2013 in Uncategorized

EDISI 007

Cirebon,  1 Rabiul Akhir 14374 H / 12 Februari 2013 M

Pengasuh : Prof. Dr. KH Salim Badjri 

khusyu'1assalamuallaikum wr wb..

Sebagian besar umat Islam menganggap bahwa setiap muslim yang telah melaksanakan shalat apalagi telah berhaji, dianggapnya telah beriman. Perlu dijelaskan terlebih dahulu tentang iman secara etimologi ialah percaya, secara terminology mempercayai semua ajaran Islam untuk dilaksanakan semua perintahnya dan dijauhkan semua larangannya.

Dalam edisi ke 6 telah dijelaskan firman Allah surat Al A’raf ayat 102  “Dan Kami tidak mendapati kebanyakan mereka memenuhi janji, bahkan kebanyakan menjadi orang fasik”.

Setiap shalat umat Islam telah berjanji dengan membaca tahiyat di dalamnya terdapat tasyahud yang dibaca secara  berulang-ulang dalam shalat wajib saja 9 x, sehari semalam kalau ditambah shalat-shalat sunnah berapa puluh kali jumlahnya. Isi ikrarnya dalam tasyahud saya menyaksikan tidak ada tuhan hanya Allah, berarti siap akan melaksanakan isi Alqur’an 30 juz, dan saya menyaksikan Nabi Muhammad utusan Allah, berarti siap akan melaksanakan ajaran-ajaran hadits Nabi yang shahih. Ikrar setiap shalat didengar oleh Allah swt dan disaksikan serta direkam oleh para malaikah.

Allah swt berfirman dalam QS. 43:80 :

“Apakah mereka mengira, bahwa Kami tidak mendengar rahasia dan bisikan-bisikan mereka? Sebenarnya (Kami mendengar), dan utusan-utusan (malaikat-malaikat) Kami selalu mencatat di sisi mereka” QS. 43:80

Tetapi hebatnya syaithan menggarap manusia, walaupun janji berulang-ulang tapi sulit untuk merealisasikannya, shalat dilaksanakan, melanggar larangan Allah berjalan terus, sehingga kata Allah kebanyakan manusia fasik. Hal semacam ini perlu dipertanyakan mengapa? Manusia disamping diberi akal fikiran diberi pula hawa nafsu untuk menumbuhkan kreatif dan dinamis namun hawa nafsu adalah merupakan garapan syaithan yang empuk. Tetapi Allah telah menyediakan antisipasi dengan melestarikan wahyuNya.

Allah swt berfirman dalam QS. 15:9 :

Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan Sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya”

Agar pola pikir dan hawa nafsu manusia bersifat qur’ani sehingga tumbuh iman dan syaithan tidak sanggup menggarapnya.

Allah swt berfirman dalam QS. 16:99 :

“ Sesungguhnya syaitan itu tidak ada kekuasaanNya atas orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada Tuhannya”.

Nyatanya sekian banyak umat Islam jarang mengkaji Al Qur’an, hanya mengaji saja, hingga tidak memahami dan tidak minat mengamalkan isinya. Sedangkan Al Qur’an adalah hudan (petunjuk), bagaimana jadi petunjuk kalau tidak memahami artinya. Mengkaji Al Qur’an hukumnya wajib,

sebagimana firmanNya QS. 29:45

“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, Yaitu Al kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. dan Sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan”.

أتْل = فعل أمر kata kerja perintah, menurut ilmu ushul fiqh kalau dalam ayat atau hadits ada kata kerja perintah hukumnya wajib. Ayat ini ada kaitannya dengan surat Al Muzamil ayat 4, membaca Al Qur’an dengan tartil agar keluar arti dan memahaminya. Dalam kitab Shafwah tafsir jilid 3 hl 441 dikatakan “ Yang dimaksud tartil ialah menghadirkan  hati dikala  membaca (agar memahami)“ 

“Yang dimaksud tartil ialah membacanya dengan lunak sesungguhnya akan membantu untuk memahaminya dan menghayati”.

Bersambung…….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s