HAWA NAFSU ADALAH UJIAN YANG PALING BERAT BAGI SETIAP MANUSIA

Posted: Maret 8, 2013 in Uncategorized

EDISI 013

Pengasuh: Prof. Dr. KH Salim Badjri 

assalamuallaikum wr wb…

1Ujian yang paling berat yang dihadapi manusia, adalah melawan hawa nafsu. Karena hawa nafsu mampu menguasai bahagian2 organ tubuh, seperti akal pikiran, mata, telinga, mulut, tangan,kaki, perut, alat seksual dlsb. Juga mampu menundukkan akidah, keyakinan kehendak, kepercayaan, ibadah, maupun muamalah. Karenanya manusia yang membiarkan hawa nafsunya berjalan secara alami tanpa diberi bimbingan wahyu Ilahi, maka panca indra akan bersikap liar cenderung kearah negatip, demikian juga keyakinan dan sejenisnya akan sama. Sehingga semuanya itu akan memperhambakan diri kepada hawa napsu dan hawa napsu akan dijadikan Tuhannya sebagaimana yang telah dijelaskan pada edisi 009.

Allah swt berfirman dalam QS. 25:43-44

  (أَرَءَيتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلٰهَهُ هَوىٰهُ أَفَأَنتَ تَكونُ عَلَيهِ وَكيلًا  ﴿٤٣

   (أَم تَحسَبُ أَنَّ أَكثَرَهُم يَسمَعونَ أَو يَعقِلونَ ۚ إِن هُم إِلّا كَالأَنعٰمِ ۖ بَل هُم أَضَلُّ سَبيلًا    ﴿٤٤

(43) Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya? (44) atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu).

Menurut ayat tsb, manusia setelah menjadi hambanya hawa napsu, telinga maupun akal pikirannya tidak lagi berfungsi. Tindak –tanduk, muamalah maupun ibadah hanya mengikuti perintah hawa napsu. Karenanya banyak umat Islam melaksanakan ibadah tanpa dalil dari ayat maupun hadits, karena sudah patuh, tunduk dan setia kepada Tuhannya hawa napsu. Sedangkan dalam ajaran Islam, ibadah harus berdalil, apakah dari ayat artau hadits. Kalau tidak ada dalilnya, dilarang orang melakukan ibadah semaunya sendiri, apakah dari tradisi atau peninggalan nenek moyang, haram hukumnya. Sesuai yang tercamtum dalam ilmu ushul fiqh:  

 ليل على الأمر الأصل في العبادة 

Pada dasarnya ibadah dilarang (haram) kecuali ada dalil dari ayat al-Qur’an maupun hadits yang memerintahkannya)”.

Kalau manusia sudah menjadi hambanya hawa napsu, berarti sudah lupa akan isi ayat2 al-Qur’an maupun hadits, walaupun ayat dan hadits masih ingat, tapi sdh tidak bias memahami lagi. Maka syaithan segera berkiprah, karena ini dianggapnya makanan empuk, terus digiring kearah perbuatan bid’ah, khurafat dan kemusyrikan. Syaithan terus memperindah amalan2 tsb, sehingga yang bersangkutan terpedaya dan nampak amalan2 tsb indah.

Allah swt berfirman dalam QS.35: 8 :

أَفَمَن زُيِّنَ لَهُ سوءُ عَمَلِهِ فَرَءاهُ حَسَنًا ۖ فَإِنَّ اللَّهَ يُضِلُّ مَن يَشاءُ وَيَهدى مَن يَشاءُ ۖ فَلا تَذهَب نَفسُكَ

 (عَلَيهِم حَسَرٰتٍ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَليمٌ بِما يَصنَعونَ  ﴿٨

“Maka apakah orang yang dijadikan (setan) menganggap baik pekerjaannya yang buruk lalu dia meyakini pekerjaan itu baik, (sama dengan orang yang tidak ditipu oleh setan)? maka sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya; maka janganlah dirimu binasa karena kesedihan terhadap mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.”

Karena amalan itu nampak indah, dilanjutkan terus tidak niat taubat sampai akhir hayat. Garapan semacam ini yang sangat disenangi syaithan. Karena kalau syaithan menggoda manusia dengan dosa besar, walaupun tergarap, tapi yang bersangkutan merasa perbuatan tsb bertentangan dengan nurani, tetap satu saat niat bertobat, bahkan ada yang mengatakan perbuatanku ini kiranya tidak diikuti oleh anak2ku. Lain halnya dengan perbuatan bid’ah, khurafat dan kemusyrikan, diturunkan sampai ke anak cucu.

Ikrarnya dalam kalimat syahadat, patuh kepada Allah dan rasul, realisasinya patuh kepada kehendak hawa napsu, karena yang bersangkutan sudah menjadikan hawa napsu sebagai Tuhannya. Dalam suatu hadits syaithan pernah mengeluh, aku goda umat Islam dg perbuatan dosa besar, kena dan tergarap. Kemudian yg bersangkutan sadar dan bertaubat. Syaithan merasa kecawa, garapannya yg sudah lama itu sia2, kemudian syaithan merubah strategi, menggarap manusia agar mau ibadah amalan yg bukan perintah Allah dan Rasul, tapi berdasarkan kehendak hawa napsu, tergarap dan tidak niat taubat sampai mati. 

وعن أبي بكر الصيديق رضي الله عنه عن النبي صلم أنه قال: عليكم بلا إله إلاالله والإستغفار, فأكثروا منهما, فإنّ إبليس قال: إنمّا أهلكت الناس بالذنوب,

وأهلكوني بلا إله الاالله ولإستغفار, فلما رأيت ذلك أهلكتهم بالأهواء فهم يحسبون أنهم مهتدون. (تفسير المراغي المجلد التساع صفحة:63)

Dari Abu Bakar Ashidiq r.a dari Nabi saw bersabda: Hendaklah kamu berpegang dg Lailaaha illah dan istighfar serta, perbanyaklah mengucapkanlah, karena iblis berkata, sesungguhnya aku menghancurkan manusia dg dosa2. Namun mereka menghancurkan garapanku dg Laailaha illah serta istighfar. Maka setelah itu aku rubah setrategiku dg jalan menggarapnya melaluihawa napsu, sehingga mereka menduga mendapat hidayah,(Tidak niat lagi bertaubat)” (Tafsir Al Maroghi jilid 9 halaman 63.

Bersambung………

Ikuti KAJIAN TAFSIRnya DI HARI JUM’AT MALAM & SABTU PAGI di

MAJLIS TA’LIM “ASY-SYAFI’I”

Jl. Pekarungan Panjunan Cirebon Telp. (0231) 203854 HP. 082116222138

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s